Contoh
Pelanggaran Etika Bisnis Oleh Beberapa Pihak Pengusaha Aksesoris Anime “アニメ”
Anime “アニメ” diadaptasi dari kata “Animation” yang menjadi “アニメーション (Animēshon)” yang di singkat menjadi “Anime”. Semakin majunya era modern ini, kata “Anime” sendiri diasumsikan untuk membedakan animasi 2D dari jepang dan animasi dari Negara lainnya.
Semakin majunya teknologi di Jepang, peralatan & perlengkapan untuk animator dijepang jadi sangat terpenuhi dan bahkan tidak tanggung-tanggung, beberapa animator dari Indonesia juga lebih memilih berkarir disana seperti Bushiroad, Kadokawa, Kyoto Animation, dan studio-studio besar lainya dengan berbagai macam fasilitas yang lengkap. Anime sendiri sudah menjadi hiburan favorit banyak orang diseluruh dunia mulai dari rating anak-anak hingga dewasa.
Tapi tidak berhenti sampai di situ saja, banyak juga perusahaan-perusahaan lain yang membangun sebuah usaha dan berinovasi didalam dunia anime sendiri. Contohnya memproduksi poster anime, stiker, action figure anime, dakimakura (bantal peluk berukuran panjang dengan berbagai macam gambar karakter anime, bukanguling), kaos, bahkan ada juga jasa modifikasi desain body mobil dengan karakter anime favorit dan lain-lain.itu juga semuanya menggunakan biaya yang tidak sedikit.
Nah disini saya akan memaparkan beberapa pelanggaran yang terdapat di produk-produk pengembangan atau aksesoris dari film anime.
1. Dakimakura “抱き枕“ / Bantal Peluk

Dakimakura biasanya berisi busa yang tidak terlalu padat (bukan kapuk) dengan gambar karakter yang terkesan imut. Namun semakin canggihnya teknologi dan semakin updatenya software editing gambar, mereka justru juga memproduksi dakimakura tersebut dengan editan gambar karakter yang awalnya positif menjadi negatif, berbau pornografi contohnya. Bahkan sekarang, kebanyakan dakimakura diberi gambar yang tidak pantas dilihat anak-anak dibawah umur. Dari gambar itulah saya mengasumsikan, beberapa pihak yang memproduksi dakimakura kurang memperhatikan etika dalam berbisnis.
2. Poster Anime

Ada 2 model poster anime, yaitu di gantung dan di tempel dengan berbagai ukuran mulai dari ukuran bingkai foto hingga yang seukuran dinding kamar. Kasusnya hamper sama seperti dakimakura, beberapa orang juga membuat poster anime dengan berbagai macam editan yang berbau pornografi. Meskipun tidak sebanyak dakimakura, tapi tetap saja inovasi tersebut sudah melanggar etika dalam berbisnis. Mereka hanya memikirkan keuntungan tanpa memikirkan dampaknya bagi orang lain.
3. Action Figure Anime

Khusus figure anime yang berkarakter perempuan, memang sengaja dibuat dengan kesan yang sangat imut dan bahkan biasanya lebih imut dari karakter sebenarnya dalam film animenya sendiri. Namun lagi-lagi, saya menemukan kasus yang sama dengan produk dakimakura & poster. Yaitu berbau pornografi, namun tidak sepenuhnya. Yaitu figure dengan penampilan bikini. Memang benar bahwa serial anime banyak karakter yang berpakaian bikini, biasanya scene dipantai. Tapi menurut saya, figure seperti berpakaian bikin tidak perlu dibuat karena figure tersebut ditakutkan dapat membuat orang berfantasi yang tidak-tidak. Tidak mungkin serial anime dalam satu musim akan menayangkan karakter berpakaian bikini.
Jadi saya ambil kesimpulan dari beberapa contoh diatas, orang-orang atau perusahaan yang memproduksi aksesoris anime diatas sangat kurang memperhatikan etika dalam berbisnis. Mereka hanya memikirkan keuntungan dengan membuat orang tertarik oleh produk yang seharusnya tidak perlu seperti itu. Mungkin 80% orang dewasa tidak masalah dengan itu, namun sekarang banyak anak-anak dibawah umur mengkoleksi berbagai macam aksesoris anime dan itu justru bersifat negatif.
Mudah-mudahan dengan adanya ini para orang tua bisa lebih memperhatikan anaknya jika anaknya menyukai anime dan masih dibawah umur.
Sekian artikel pendek yang tidak berarti dari saya. Kurang lebihnya saya mohon maaf untuk kata-kata yang dikira kurang baik.
Terima kasih.
Mudah-mudahan dengan adanya ini para orang tua bisa lebih memperhatikan anaknya jika anaknya menyukai anime dan masih dibawah umur.
Sekian artikel pendek yang tidak berarti dari saya. Kurang lebihnya saya mohon maaf untuk kata-kata yang dikira kurang baik.
Terima kasih.
Quotes : Berbisnislah dengan bijak. Jangan meninggalkan etika dalam melakukan bisnis. Kita berbisnis bukan hanya untuk mendapatkan keuntungan, tapi untuk merubah keadaan sekitar dan diluar menjadi lebih baik. Apa gunanya kita untung dari hal yang kurang baik, jika dampaknya juga ikut menjadi kurang baik. Mari kita rubah mindset orang dalam berbisnis menjadi lebih baik agar menghasilkan dampak yang luar biasa bagus di mata masyarakat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar